Aku menjatuhkan karung kelabu dari bahuku ke atas lantai batu berdebu di dapur. Memasukkan busur dan anak panahku kedalam lemari penyimpanan kembali. Pintu kayu lemari penyimpanan itu sudah terlalu tua untuk terus menerus di buka dan di tutup berulang-ulang, ia berderit nyaring saat ku buka, walaupun bisa kucium bau kayu lapuk. Aku menutupnya dengan sedikit dorongan bahuku. Aku tidak tahu persis apa yang terjadi dengan pintu sialan ini hingga ia sulit sekali untuk di tutup. kayu keroposnya yang berbau lapuk tampak bergetar beberapa detik saat aku berhasil merapatkannya kembali.
Aku masih menatap geram kearah pintu kayu jelek itu saat Adair masuk sambil membawa sekeranjang besar kentang. ia tersenyum padaku dan meletakkan keranjang kentang itu diatas meja dapur dengan bunyi debam keras. Adair mengelapkan tangannya ke bagian belakang celana hitamnya, mengenakan celemek coklat kotor disekeliling pinggangnya, dan kemudian mengeluarkan pisau dari balik pinggangnya dan mulai mengupas kentang-kentang tersebut.
Adair bekerja dalam diam. Tangannya cekatan mengupas kentang-kentang gemuk itu. Menggerakkan tangannya dengan gerakan tangan memutar hingga kulit kentang yang ia kupas ditangannya terjulur ke bawah tanpa putus hingga ujung terakhir. Sesekali ia mendongak menatap ku. Melemparkan senyum dan kembali menunduk menekuni kentang-kentangnya.
Aku berjalan mendekat pada Adair, berdiri di seberang meja tepat berhadapan dengannya. Ia mendongak. “Kau mau bantu?” tanyanya sambil tersenyum, memperlihatkan lesung pipi kirinya. Pemandangan wajah yang tampak terlalu feminin untuk remaja laki-laki yang biasa membelah kayu-kayu bakar dengan kapaknya dengan sekali ayun.
“Kau perlu bantuan?” pertanyaanku membuatnya tertawa kecil.
“Ya,” ujarnya, “aku perlu baskom besar dengan air untuk kentang-kentang ini.”
Aku bergerak kearah rak peralatan. Menatap tumpukan panci, penggorengan, piring, gelas dengan bimbang. Aku tidak tahu dimana Adair biasanya menyimpan baskom besarnya, dan aku terlalu malu untuk bertanya dimana. Namun bagaikan ia bisa tahu kenapa aku hanya berdiri diam, Adair berkata, “Ada di dalam lemari di bawah sana.” ia menunjuk pintu lemari penyimpanan dibawah meja diseberang ruangan. Meja yang diatasnya berdiri deretan stoples berisi bubuk-bubuk yang aku tidak tahu apa.
Aku membuka pintu kayu lemari tersebut. Tidak berderit, pikirku. Aku menemukan baskom besar alumunium yang tepi-tepinya sudah bengkok dan tergores disana sini. Membawa baskom tersebut ke keran air dan mengisinya setengah. Kurasakan sedikit cipratan air dari keran berkarat itu. Dingin. Tidak sedingin air di musim dingin, tapi temperaturnya kurasa lebih rendah daripada air di musim panas atau musim gugur.
Ku bawa baskom berisi air itu ke meja dimana Adair sudah menyelesaikan mengupas setengah dari kentang-kentang yang tadi dibawanya. Aku meraih kentang-kentang yang sudah di kupas Adair yang bergelimpangan di atas meja. Memasukkannya kedalam baskom berisi air tersebut.
“Kita akan makan ketang tumbuk untuk makan malam,” kata Adair, “kau suka?”
“Lumayan,” sahutku.
Adair tersenyum, kembali memperlihatkan lesung pipinya. “Lumayan? Itu jawaban yang kurang meyakinkan.”
“Aku suka kentang,” kataku buru-buru, aku tidak ingin ia merasa tersinggung. “Tapi aku tidak yakin apakah aku bisa menikmati kentang untuk makan malam.”
Adair menoleh padaku, menghentikan tangannya mengupas kentang ditangannya, mengerutkan keningnya, tanda ia tidak mengerti dengan penjelasan yang kusampaikan. “Kau harus makan kentang dengan sesuatu?”
“Bukan,” jawabku, “Aku tidak tahu apakah perutku bisa menerima makan malam, karena… karena aku tidak pernah makan malam.”
Adair menatapku. Aku tidak pandai menilai tatapan orang lain padaku, kecuali jika orang tersebut menatapku dengan perasaan kasihan. Aku mencari rasa kasihan di mata Adair, tapi aku tidak menemukannya. Ia menatapku bukan karena kasihan. Aku tahu itu. Ia hanya memintaku menceritakan padanya kenapa aku tidak pernah makan malam, walaupun aku yakin ia mengerti mengapa aku tidak pernah makan malam.
Aku meraih kentang di tangan Adair. Mengeluarkan pisauku sendiri dari balik kantong di pinggangku dan mulai melanjutkan mengupas kentang yang tidak ia teruskan.
“Makan malam adalah hal yang sangat mewah bagi kami,” aku mulai bercerita, “kami hanya makan pagi dan siang, di waktu dimana kami membutuhkan tenaga. Tapi kami tidak perlu itu di malam hari walaupun kenyataannya kami bekerja hingga hampir tengah malam. Lagipula, kami memang tidak mampu.”
Aku menyelesaikan mengupas ketang terakhir dari keranjang Adair dan memasukkan kentang tersebut kedalam baskom air. Mencuci dan menggosok kentang-kentang tersebut dengan tanganku hingga tanah kecoklatan tipis dipermukaannya menghilang. Sementara Adair berjalan ke arah rak peralatan dan mengambil panci besar dari sana, mengisinya dengan air dan memasukkan kentang-kentang yang telah ku cuci ke dalam panci. Meletakkan di atas tungku yang sejak tadi apinya sudah sempat ia nyalakan. Membelakangiku.
“Adair,” yang kuingat ini adalah pertama kalinya aku memanggil namanya. Adair yang berarti tombak agung, yang bagiku terdengar aneh namun disaat yang bersamaan terdengar sangat terhormat, “aku tahu kau tidak kasihan padaku.”
Ia menoleh padaku. Berjalan ke arahku hingga kami hanya berjarak beberapa dua jengkal tangannya. Aku balas menatap matanya, dan saat itulah aku sadar tubuhnya lebih bidang, lebih tinggi, dan lebih memberikan rasa aman daripada yang selama ini aku perkirakan untuk remaja laki-laki 15 tahun pada umumnya.
“Aku tahu,” ujar Adair, “aku memang tidak pernah mengasihanimu.Sejak kau datang pertama kali. Di malam hujan deras waktu itu, saat bibirmu membiru karena dingin. Tidak pernah sedikitpun terlintas untuk mengasihanimu.”
seharusnya aku bertanya ‘kenapa’ padanya, namun sebelum aku sempat bersuara ia berkata, “karena ku pikir kau adalah gadis yang terlalu kuat untuk dikasihani.” Adair tersenyum padaku, menjulurkan tangannya, menepis lembut bahuku, mengusir bekas tanah mengering dibajuku.
Dan saat itu, sambil menatap gemulai jingga api yang menari-nari didalam tungku, aku memutuskan untuk mempercayai Adair. Dan angin musim semi berhembus perlahan, melewati pintu dapur dan menerpa lembut ujung rambutku.








